Senin, 22 Februari 2010

Wakil talqin berkonvensi









Semburat rona segar terlukis di wajah para Wakil Talqin yang baru saja keluar dari madrasah. Para pengemban tugas mulia ini baru saja bermuwajahah dengan Yang Mulia Wali Mursyid Thariqah Qadiriyyah Naqsyabandiyyah (TQN) Suryalaya, KH. Ahmad Shaibul Wafa Tajul ‘Arifin (Abah Anom). Kamis itu, 5 Februari 2009 atau bertepatan dengan 10 Shafar 1430 H, para Wakil Talqin kembali berkumpul di Pondok Pesantren Suryalaya untuk melakukan Pertemuan Khusus Para Wakil Talqin TQN Ponpes Suryalaya yang ke-11 kalinya.

Dalam amanatnya yang dibacakan oleh salah satu pengemban amanah, sesepuh pondok yang sekaligus Wali Mursyid TQN Suryalaya menekankan :
1. Perlunya peningkatan latihan jiwa melalui Riyadhatun Nafs dengan materi yang dapat dipertanggungjawabkan,
2. Mengefektifkan waktu pembinaan kepada para Ikhwan dan Akhwat TQN Suryalaya agar mampu menempa diri, membersihkan hati, mengendalikan nafsu, menyiasati berbagai tipu daya syetan.

3. Melakukan pembinaan praktek amaliah kepada para ikhwan dan akhwat yang tersebar di seluruh nusantara dan luar negeri sehingga memiliki pemahaman dan persepsi yang sama tentang Thariqah Qodiriyyah Naqsyabandiyyah di Pondok Pesantren Suryalaya berikut Tanbih dan Untaian Mutiara Pangersa Guru almarhum Syekh KH. Abdullah Mubarak bin Nur Muhammad ra.
4. Hendaknya para Wakil Talqin mampu menjalankan tugas dengan niat yang tulus, ikhlas semata-mata ibadah dan mengabdikan diri kepada Allah SWT.

Jumlah Wakil Talqin Abah Anom sejak pengangkatan pertama di tahun 1972 hingga Okober 2008 adalah 86 orang, 25 orang diantaranya telah meninggal dunia. Dalam pertemuan kali itu hadir kurang lebih 50 orang Wakil Talqin.

Setelah bermuwajahah dengan Pangersa Abah Anom para Wakil Talqin menuju Puncak Suryalaya untuk berziarah ke makam KH. Abdullah Mubarak bin Nur Muhammad ra (Abah Sepuh), dipimpin oleh KH. Nur Anom Mubarak dan KH. Zaenal Abidin Anwar—dua dari tiga orang Pengemban Amanah Sesepuh Pondok Pesantren Suryalaya.

Selanjutnya pertemuan untuk melakukan bahtsul masa il dilakukan setelah Shalat ‘Isya. Bahtsul Masa il itu dilakukan di Wisma Shuffah dan dimulai pukul 21.00 hingga 24.00 WIB, dipimpin oleh KH. Zaenal Abidin Anwar dan KH. Arif Ichwani. Pimpinan Bahtsul Masa il memberikan kesempatan kepada para Wakil Talqin untuk mengutarakan metode dakwah masing-masing berdasarkan sosiokultural komunitas yang dihadapi.

Kesempatan pertama diberikan kepada komunitas cendekiawan, intelektual dan akademisi yang diwakili oleh Prof. DR. H. Ahmad Tafsir dari Bandung. Prof. Tafsir menjelaskan, komunitas yang sering dihadapinya adalah orang-orang yang sangat rasional. Segala sesuatunya harus sesuai logika. Karena itu banyak pertanyaan yang timbul dari orang-orang ini. Maka dalam menjawab segala pertanyaan yang diajukan beliau harus masuk ke dalam alam pikiran mereka. Dengan ilmu-ilmu ketasawufan yang berdasarkan nash Al Qur’an, Hadist, Ijma dan Qiyas ulama serta logika. Seringkali, ketika menjelaskan tentang tasawuf atau tarekat Prof. Tafsir terkondisikan untuk mentalqin meskipun pada saat yang bersamaan beliau tengah memberikan kuliah kepada mereka. Sebuah proses talqin yang menafikan standar baku. Hal ini sempat beliau tanyakan kepada Pangersa Abah. Dan Abah ternyata menyetujui proses talqin tersebut.

Selanjutnya KH. Wahfiudin, SE, MBA dari Jakarta mewakili komunitas pebisnis, korporat dan kaum menengah ke atas di kota-kota besar. Selama ini beliau diberi kepercayaan oleh manajemen sebuah bank syariah nasional untuk memberikan bimbingan dzikir di kantor pusatnya. Setiap Jum’at pagi sebelum jam masuk kantor, karyawan dari tingkat terendah hingga top management hadir memadati sebuah lobby yang disulap menjadi majlis dzikir. Kegiatan tersebut sudah dan masih berlangsung sejak tahun 2000 dan menjadi rutinitas Jum’atan.

Seiring berjalannya waktu, bank syariah tersebut semakin berkembang dan bertambah maju. Keuntungan pun semakin berlipat. Banyak penghargaan mereka raih. Mereka sukses membina SDM dengan berbagai macam pelatihan dan kegiatan-kegiatan spiritual. Salah satu penunjang kesuksesan itu adalah dzikir berjamaah setiap Jum’at pagi. Menyadari hal tersebut, top management kembali memberikan kepercayaan kepada KH. Wahfiudin untuk memberikan pelatihan dzikir di seluruh cabang koordinator mereka di Indonesia. Alhamdulillah, atas ridho Allah dan berkat kemuliaan Wali Mursyid tujuh cabang koordinator telah dilatih berdzikir sepanjang tahun 2007 dan 2008 yang lalu, melalui Pelatihan Manajemen Sukes selama dua hari.

Metode dakwah dengan pola pelatihan ini menjadi konsentrasi KH. Wahfiudin dalam rangka mengemban tugas Wali Mursyid, yaitu menyebarkan dan mengembangkan ajaran TQN Suryalaya. Di beberapa daerah seperti di Aceh, Medan, Pekanbaru, Lampung, Gowa, Makasar, Banjarmasin, Surabaya, Bojonegoro, Solo, Yogyakarta, Semarang, Demak, Bandung, Garut, Jakarta dan lain-lain berkesempatan menerima pelatihan yang digelar KH. Wahfiudin dan timnya dalam wadah RADIX Training Center.

KH. Ali Hanafiah Akbar dari Surabaya mengisi kesempatan ketiga dengan memaparkan metode dakwahnya di kalangan grass root sesuai dengan apa yang beliau terima dari Pangersa Abah sejak awal belajar dzikir TQN Suryalaya. Latar belakang beliau yang bukan dari kalangan intelektual dan banyak berkecimpung di komunitas petani, nelayan, pekerja dan buruh pelabuhan melengkapi metode dakwah TQN Suryalaya yang diwakilinya. Setiap permasalahan yang timbul solusinya adalah pemantapan iman, “Langsung Dzikir saja!”, begitu ujarnya.

Berdasarkan pengalamannya selama dibimbing oleh Pangersa Abah, setiap KH. Ali unjukan atas berbagai problem yang dihadapi jamaahnya, jawaban Pangersa Abah selalu bermuara pada dzikir. Sebab, masih menurut KH. Ali, dzikir adalah solusi utama. Segala problem umat solusinya dengan mempraktekkan dzikir. Maka dakwah beliau di Timur Indonesia penekanannya to the point, “Amalkan dzikir!”

Ust. H. Mohd. Zuki Asy Syuzak bin Safei dari Kedah-Malaysia memaparkan metode dakwah dengan pola inabah untuk pemuda-pemuda korban penyalahgunaan narkoba. Dari pola inabah yang telah beliau terapkan, akhirnya pihak Kerajaan Malaysia menaruh minat untuk menggunakan pola itu secara nasional. Seiring berjalannya waktu, sedikit demi sedikit pejabat kerajaan berkenalan dan mulai mengamalkan TQN Suryalaya.

Tgk. H. Sulfanwandi, S. Ag dari Tungkob, Aceh Besar-Nangroe Aceh Darusalam—yang diangkat Wakil Talqin oleh Pangersa Abah bulan Maret 2005, selepas peristiwa tsunami Desember 2004—memaparkan kondisi dakwah di Aceh. Beliau ungkapkan pola dakwah dengan mengedepankan tema DZIKIR PEMBERSIH HATI. “Masyarakat Aceh masih belum menerima jika kita langsung mengatakan tasawuf atau tarekat di depan mereka. Maka saya undang mereka untuk menghadiri majlis DZIKIR PEMBERSIH HATI,” ungkap Tgk Sulfan yang berperawakan besar ini.

“Baru pertama berjumpa dengan Pengersa Abah, berkat wasilah Bang Wahfi (KH. Wahfiudin) dan Ajengan Jejen (KH. Zezen Zaenal Abidin) selepas mereka dan TD-SUA menjadi sukarelawan di Aceh, saya dan Tengku Hasan Muda bin Hamid dari Lamno langsung diangkat menjadi Wakil Talqin. Saya terharu dan malu, merasa belum pantas dan belum cukup ilmu. Begitu besar kepercayaan beliau kepada kami”, kenang Tengku Sulfan.

“Sepulangnya dari Suryalaya saya membangun balai dzikir (majlis dzikir).Kini bangunan berlantai tiga ini telah berdiri dan kami beri nama BALAI DZIKIR TAJUL ‘ARIFIN. Satu-satunya balai dzikir di Aceh yang langsung bertabaruk dengan nama Pangersa Abah, bahkan mungkin di Indonesia. Sampai saat ini ikhwan dan akhwat yang tergabung sudah sekitar 1.200-an. Alhamdulillah. Ini juga berkat doa Abah. Doakan kami agar bisa istiqomah”, lanjut Tengku Sulfan.

Selepas itu, terjadi diskusi menarik antara para Wakil Talqin berkaitan dengan peningkatan amaliah ikhwan dan akhwat. Berturut-turut Ust. H. Mansur bin Saleh (Semporna-Malaysia), KH. Saifullah, BA (Probolinggo), KH. Amin Abdullah (Cilegon-Banten), Drs. H. Anhari Basuki, SU (Semarang-Jateng), KH. M. Thoha Abdurrahman (Yogyakarta), KH. Zezen Zaenal Abidin (Sukabumi-Jabar) dan wakil-Wakil Talqin lainnya menyampaikan opini. Tidak ketinggalan KH. R. Abdullah Syarif (Ciawi-Tasikmalaya) yang akrab dipanggil Akeh dan merupakan Wakil Talqin paling sepuh dimintakan saran dan wejangannya dalam Bahtsul Masa il tersebut.

Tun Haji Sakaran bin Dandai (Sabah-Malaysia) turut memberikan pengalaman dan wejangannya kepada para Wakil Talqin yang hadir. Begitu teduh kata-kata yang terungkap dari lisan beliau. “Para Wakil Talqin yang ada dalam pertemuan kali ini merupakan orang-orang pilihan Pangersa Abah. Semua dari kita memiliki perasaan sama ketika diangkat menjadi Wakil Talqin. Merasa belum cukup ilmu dan belum berhak mengemban amanah besar ini. Latar belakang para Wakil Talqin juga beragam. Justru ini menunjukkan betapa luasnya ilmu Abah”, demikian pandangan Tun Sakaran.

Dini hari, sebelum adzan subuh berkumandang, para Wakil Talqin telah berkumpul di madrasah untuk melaksanakan shalat shubuh berjamaah. Sementara ikhwan-akhwat yang lain shalat berjamaah di Masjid Nurul Asror. Selepas Shalat Shubuh dan dzikir harian, para Wakil Talqin duduk melingkar, menundukkan wajah, hening. Di ujung timur, dekat pintu masuk ke ruang utama kamar Pangersa Abah, terlihat sosok mulia Pangersa Abah Anom . Duduk dalam posisi tawajuh di atas kursi roda yang selalu setia mendampinginya, menjadi pusat dalam lingkaran para Wakil Talqin.

Subhanallah, qalbu para Wakil Talqin sedang terhubung dengan qalbu mursyid. Tiada yang dapat merasakan ke-‘asyiq’-an itu kecuali mereka yang telah dan bisa merasakannya. Tidak ada kata terucap. Tidak ada tatap mata memandang. Tidak ada alam fikiran beterbangan. Semuanya menuju Satu. Berserah kepada Ahad. Dibimbing Mursyid wushul pada-Nya.

Semoga event pertemuan khusus ini diberkahi Allah SWT. Semoga Pangersa dipanjangkan usia dunianya, dimuliakan qurbah ruhaninya. Demikian para Wakil Talqin semoga istiqomah dalam mengemban amanah besar Mursyid TQN Suryalaya. Diberi kekuatan, ketabahan, keikhlasan, dan kearifan. Sehingga mampu membimbing ikhwan-akhwat TQN Suryalaya melaksanakan proses pensucian diri dan wushul ilallah dengan amal ilmiah dan ilmu amaliah.


Rawamangun, 10 Februari 2009 (Han)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar